Sosok di Balik Nama Lipet Sobolim
Nama Lipet Sobolim mencuat di berbagai pemberitaan nasional setelah aparat keamanan menembaknya pada 6 November 2025 di Distrik Dekai, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan. Ia dikenal sebagai Komandan Batalyon Semut Merah, salah satu kelompok paling aktif dalam jaringan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB).

Keberadaannya selama beberapa tahun terakhir menjadi ancaman nyata bagi warga sipil dan aparat keamanan di Papua bagian pegunungan. Banyak pihak menilai kematiannya adalah pukulan besar bagi struktur KKB Yahukimo yang selama ini menjadi salah satu poros kekuatan bersenjata di wilayah tersebut.
Baca Juga: Berita Terbaru Seputar KKB Papua
Identitas dan Biodata Lipet Sobolim
Nama, Alias, dan Jabatan
Lipet Sobolim, dikenal pula dengan alias “Cocor Sobolim” dan “Junior Bocor Sobolim,” merupakan sosok yang memimpin Batalyon Semut Merah di bawah koordinasi Kodap Yahukimo. Menurut rilis Satgas Damai Cartenz, ia menggunakan beberapa identitas untuk mengelabui aparat dan menghindari pelacakan setelah setiap aksi kekerasan.
Struktur kepemimpinannya di dalam kelompok disebut cukup solid; ia memimpin sekitar 20–30 anggota bersenjata aktif, dengan basis operasi di daerah pegunungan terpencil antara Pegunungan Bintang dan Yahukimo.
Asal Usul dan Latar Belakang
Walaupun informasi rinci seperti tempat lahir, keluarga, atau pendidikan tidak pernah diungkap ke publik, sejumlah laporan menyebut bahwa Lipet berasal dari wilayah pegunungan tengah Papua dan mulai bergabung dalam kelompok bersenjata sekitar 2018 – 2019.
Ia diduga memiliki pengalaman tempur di hutan dan sangat mengenal medan, menjadikannya sosok penting dalam struktur KKB Yahukimo.
Jejak Kekerasan dan Operasi Bersenjata
Serangan terhadap Pekerja Tambang Ilegal (Agustus 2023)
Salah satu aksi yang paling dikenal dari kelompok Lipet Sobolim terjadi pada 27 Agustus 2023. Kelompoknya menyerang pendulang emas di Kawe Mining 63, Distrik Awibom, Pegunungan Bintang, menewaskan dua orang dan melukai lima lainnya.
Aksi tersebut dinilai sebagai strategi teror terhadap aktivitas ekonomi ilegal yang menurut mereka “menodai tanah adat,” namun aparat menilai tindakan itu semata-mata kriminal.
Serangkaian Pembunuhan (2023 – 2025)
Setelah insiden Kawe Mining, Lipet dikaitkan dengan beberapa pembunuhan lain:
- 27 Desember 2023: Pekerja tambang bernama Anas ditemukan tewas di Camp 33, Awibom.
- 9 April 2025: Pekerja Ariston Kamma dibunuh di Kampung Kawe.
Kedua insiden ini dikonfirmasi oleh laporan lapangan Satgas Damai Cartenz dan diberitakan media nasional. Pola kekerasan yang sama — penyerangan mendadak di lokasi tambang — memperkuat identifikasi kelompok sebagai pelaku.
Aksi di Yahukimo Menjelang Akhir Hidupnya
Menjelang kematiannya, Lipet kembali beraksi pada 6 November 2025 dengan membacok dua warga sipil, Bernior Telena (36) dan Soleman Ilu (30). Peristiwa ini menjadi pemicu operasi penindakan yang berujung pada kontak senjata malam harinya.
Modus Operandi dan Strategi Lapangan
Kelompok Semut Merah dikenal dengan serangan cepat (hit and run) di daerah hutan dan perbukitan. Mereka menguasai medan secara alami dan berpindah posisi melalui jalur non-resmi di antara kabupaten Yahukimo, Pegunungan Bintang, dan Bintang Baliem.
Lipet menggunakan alias ganda serta mengganti tempat persembunyian tiap beberapa minggu untuk menghindari deteksi drone dan operasi patroli. Selain itu, kelompoknya memanfaatkan tekanan sosial lokal untuk mendapatkan dukungan logistik dari masyarakat sekitar, seringkali dengan intimidasi atau ancaman.
Menurut catatan aparat, mereka juga menarget pekerja tambang dan proyek jalan sebagai bentuk penolakan terhadap aktivitas ekonomi non-lokal di wilayah adat.
Tewasnya Lipet Sobolim dalam Operasi Polisi

Pada malam Kamis, 6 November 2025, sekitar 19.55 WIT, aparat gabungan Satgas Damai Cartenz, Brimob Polda Papua, dan Polres Yahukimo melakukan penyisiran di area Dekai setelah menerima laporan pembacokan warga.
Lipet Sobolim terdeteksi berada di sekitar jalur perbukitan Dekai dan terjadi kontak tembak singkat. Ia berhasil dilumpuhkan dan dibawa ke RSUD Dekai, namun Timah Panas Polisi menewaskan Komandan KKB Lipet Sobolim.
Brigjen Pol Faizal Ramadhani menyebut bahwa “operasi dilakukan sesuai prosedur dan merupakan respon terhadap tindakan brutal pelaku yang telah mengancam keselamatan warga sipil.”
Setelah kejadian itu, patroli keamanan ditingkatkan di beberapa distrik untuk mencegah aksi balasan.
Dampak Kematian Lipet Sobolim bagi KKB Yahukimo
Kematian Lipet dinilai mengguncang struktur internal KKB di Yahukimo. Ia bukan hanya komandan lapangan, melainkan simbol resistensi bagi kelompok bersenjata setempat.
Dengan hilangnya tokoh utama, terjadi potensi fragmentasi komando: beberapa anggota mungkin menyerahkan diri, sementara yang lain bisa memilih bergabung dengan kelompok lain di wilayah Pegunungan Bintang.
Namun, aparat mengingatkan bahwa meski satu figur penting telah gugur, benih kekerasan belum sepenuhnya padam karena masih ada sisa-sisa jaringan yang beroperasi secara kecil-kecilan.
Perspektif dan Analisis
Banyak pengamat menilai tewasnya Lipet Sobolim menjadi momentum penting bagi upaya stabilisasi Papua Pegunungan.
- Dari sisi keamanan, operasi ini menunjukkan bahwa deteksi dan penindakan aparat semakin presisi.
- Dari sisi sosial, masyarakat berharap tidak terjadi aksi balasan yang berpotensi memicu ketakutan baru.
- Dari sisi politik, kematian tokoh militer lokal seperti Lipet seharusnya dimanfaatkan untuk mendorong dialog damai dan pemberdayaan ekonomi agar konflik bersenjata tidak terus berulang.
Pemerhati Papua menekankan, “Penegakan hukum tidak boleh berhenti pada pelumpuhan tokoh, tetapi harus diikuti pemulihan sosial dan ekonomi masyarakat di wilayah konflik.”
Kesimpulan
Lipet Sobolim bukan sekadar nama dalam daftar panjang konflik bersenjata Papua, melainkan cerminan kompleksitas sosial, ekonomi, dan politik di tanah Papua.
Kematian Komandan Batalyon Semut Merah ini menutup satu babak, namun membuka babak baru bagi proses pemulihan dan pembangunan di Yahukimo.
Langkah selanjutnya yang paling dibutuhkan adalah pendekatan yang menyeimbangkan keamanan dan kemanusiaan — agar Papua benar-benar damai, tanpa darah dan tanpa ketakutan.
FAQ Tentang Lipet Sobolim
1. Siapa Lipet Sobolim?
Lipet Sobolim adalah Komandan Batalyon Semut Merah di bawah struktur KKB Yahukimo, dikenal juga sebagai Cocor Sobolim dan Junior Bocor Sobolim.
2. Kapan Lipet Sobolim tewas?
Ia tewas pada 6 November 2025 setelah kontak senjata dengan aparat di Distrik Dekai, Kabupaten Yahukimo.
3. Apa saja aksi yang pernah ia lakukan?
Terlibat dalam penyerangan tambang emas di Kawe Mining 63 (2023) dan sejumlah pembunuhan pekerja tambang di Awibom (2023–2025).
4. Mengapa kematiannya dianggap penting?
Karena Lipet adalah salah satu komandan paling aktif, sehingga kematiannya melemahkan struktur KKB Yahukimo dan memberi peluang bagi stabilisasi keamanan.
5. Apa langkah aparat setelah kejadian?
Satgas Damai Cartenz meningkatkan pengamanan di titik-titik rawan dan melakukan pendekatan kemanusiaan untuk meredam konflik lanjutan.
Satu pemikiran pada “Siapa Lipet Sobolim? Profil Komandan Batalyon Semut Merah KKB Yahukimo”