Di banyak kampung pesisir di Biak, ada satu tradisi kuno yang masih terus dijaga hingga hari ini. Tradisi Sasi Laut Biak, sebuah aturan adat yang mengatur kapan masyarakat boleh dan tidak boleh mengambil hasil laut di wilayah tertentu. Meskipun sederhana, Sasi menjadi bukti kuat bahwa masyarakat adat Papua telah lama memahami pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem laut.

Dalam artikel support ini, Sastrapapua mengajak pembaca menyelami tradisi Sasi Laut Biak—sebuah kearifan lokal yang melengkapi kisah perjuangan para Nelayan Biak dalam artikel utama.
Baca Juga: Kehidupan Nelayan Biak Serta Tradisi, dan Potensi Laut Papua
Makna Sasi Laut bagi Masyarakat Biak
Bagi sebagian besar orang, Sasi mungkin dianggap sebagai aturan sosial biasa. Tetapi bagi masyarakat Biak, Sasi adalah lebih dari itu:
- Simbol penghormatan kepada leluhur
- Cara melindungi populasi ikan dari eksploitasi berlebihan
- Bentuk kebersamaan komunitas kampung nelayan
Ketika Sasi diberlakukan, tidak seorang pun—baik warga setempat maupun pendatang—boleh mengambil hasil laut di area yang ditutup. Tradisi ini sangat dihormati dan dilaksanakan melalui kesepakatan adat.
Proses Pelaksanaan Sasi Laut
1. Penutupan Area Laut
Tokoh adat, kepala kampung, dan para nelayan berkumpul untuk menentukan batas wilayah yang akan ditutup. Area tersebut biasanya berada di sekitar terumbu karang atau teluk yang memiliki nilai ekologis tinggi.
Tanda-tanda berupa anyaman daun kelapa atau simbol adat dipasang untuk memberi tahu semua orang bahwa wilayah tersebut sedang “tidur”.
2. Masa Penutupan
Masa Sasi biasanya berlangsung antara 3–6 bulan. Selama waktu ini:
- Ikan dibiarkan bertumbuh dan berkembang biak.
- Terumbu karang mendapat kesempatan untuk memulihkan diri.
- Nelayan Biak melaut di wilayah lain di luar area Sasi.
3. Pembukaan Sasi (Open Season)
Saat waktu penutupan usai, upacara adat dilakukan. Masyarakat berkumpul, doa dipanjatkan, dan ketua adat mengumumkan bahwa wilayah laut sudah boleh dipanen.
Hari pembukaan Sasi biasanya penuh suka cita:
- Nelayan turun ke laut secara bersamaan
- Hasil tangkapan melimpah
- Sebagian hasil diserahkan untuk kegiatan adat dan sosial masyarakat
Ini menjadi pesta laut kecil sekaligus bentuk syukur.
Mengapa Sasi Penting Bagi Kelestarian Laut Biak?
Walaupun sederhana, Sasi memiliki dampak ekologis besar:
1. Menjaga Populasi Ikan
Saat wilayah tertentu ditutup, ikan-ikan memiliki waktu untuk tumbuh besar dan berkembang biak. Hal ini menyebabkan hasil tangkapan setelah Sasi jauh lebih baik.
2. Mencegah Kerusakan Terumbu Karang
Terumbu karang membutuhkan waktu untuk pulih. Dengan tidak ada aktivitas penangkapan, ekosistem kembali stabil.
3. Mengajarkan Etika Pengambilan Hasil Laut
Sasi menanamkan nilai bahwa laut bukan milik siapa pun, melainkan ruang hidup bersama yang harus dijaga.
Hubungan Sasi dengan Kehidupan Nelayan Biak
Sasi bukan hanya tradisi budaya, tetapi juga menjadi bagian dari strategi ekonomi para Nelayan Biak. Ketika Sasi dibuka, nelayan bisa mendapatkan penghasilan lebih tinggi karena ikan melimpah dan lebih besar ukurannya.
Selain itu, Sasi memberi waktu bagi nelayan untuk:
- memperbaiki perahu
- memperbaiki jaring
- beristirahat pada musim tertentu
- fokus pada kegiatan adat kampung
Keseimbangan antara adat dan ekonomi inilah yang menjaga identitas maritim Biak tetap kuat.
Sasi di Era Modern: Bertahan di Tengah Perubahan Zaman
Ketika teknologi penangkapan ikan semakin modern dan permintaan pasar semakin tinggi, Sasi menjadi benteng terakhir yang melindungi ekosistem laut Biak dari eksploitasi berlebihan.
Saat ini:
- beberapa kampung mulai membuat peta digital wilayah Sasi
- lembaga konservasi membantu pengawasan
- generasi muda dilibatkan dalam proses adat
Perpaduan antara adat dan teknologi membuat Sasi tetap relevan.
Kesimpulan
Sasi Laut Biak adalah salah satu bukti nyata bahwa masyarakat Papua memiliki kearifan ekologis luar biasa sejak zaman jauh sebelum istilah “konservasi” dikenal. Tradisi ini bukan hanya menjaga kelestarian laut, tetapi juga memastikan para Nelayan Biak tetap memiliki ruang hidup yang berkelanjutan.
Bagi Sastrapapua, Sasi adalah warisan budaya yang layak dikenalkan kepada seluruh Indonesia — sebagai contoh bagaimana tradisi mampu menjadi benteng pelestarian alam.